**Aku Menatap Gedung Tinggi, Tapi yang Menjulang Hanyalah Penyesalan** Langit kota malam itu kelabu, persis seperti hatiku. Di hadapanku menjulang *Shenzhen Financial Center*, sebuah monumen kesuksesan yang bagiku hanyalah lelucon pahit. Dulu, kita bermimpi membangun imperium di sini, Wen, bersama. Kau ingat? Di bawah langit yang sama, kita berjanji, dengan tawa yang renyah dan mata yang berbinar, bahwa dunia akan menjadi milik kita. "Kita akan menaklukkan kota ini, Lin!" Kau pernah berteriak begitu, menggenggam tanganku erat-erat. Sekarang, tangan itu hilang. Bersama janjimu, bersama cintamu, bersama dirimu. Aku memejamkan mata. Kilas balik membanjiri benakku. Wajahmu yang cerah, senyummu yang menenangkan, semua itu seperti hantu yang menari-nari di pelupuk mata. Lalu, bayangan itu memudar, digantikan oleh wajah dingin Li Mei, tunanganmu. Tunanganmu *sekarang*. Dulu, dia hanyalah anak manja dari keluarga kaya raya. Dulu, kau mencintaiku. Dulu... kata itu bagaikan pisau yang mengiris-iris jantungku. Saat itu, kau memilih. Kau memilih kekayaan, status, keamanan. Kau memilih *dia* daripada aku. Kau berkata, "Maaf, Lin. Aku tidak punya pilihan." Pilihan? Kau punya pilihan, Wen. Kau selalu punya pilihan. Kau hanya memilih yang termudah, yang paling menguntungkan. Cinta itu seperti bunga yang layu di musim gugur. Kecewa itu seperti racun yang merambat ke seluruh tubuh. Aku menyaksikanmu berjalan menuju altar bersamanya, senyum palsu terukir di wajahmu. Aku menyaksikanmu memulai hidup yang bukan milikmu, hidup yang seharusnya menjadi milik kita. Aku berjanji pada diriku sendiri, saat itu juga, di tengah keramaian pesta pernikahanmu: Aku akan bangkit. Aku akan menunjukkan padamu apa yang telah kau hilangkan. Aku akan membuatmu menyesal. Dan aku berhasil. Perlahan, tapi pasti, aku mendaki tangga kesuksesan. Aku bekerja keras, membanting tulang, menghancurkan semua rintangan. Aku membangun imperiumku sendiri, jauh lebih megah dari yang pernah kau impikan. Sekarang, aku duduk di puncak, menatapmu dari ketinggian, melihatmu terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, dalam kebahagiaan palsu. Perusahaanmu terancam bangkrut, Wen. Aku yang akan menyelamatkannya, dengan satu syarat: Kau harus membayar harga yang setimpal. Harga yang lebih dari sekadar uang. Harga yang akan menghantui setiap malammu, setiap detik hidupmu. Aku tidak menyentuhmu secara langsung. *Tidak*. Aku hanya menyusun bidak-bidak catur, membiarkan takdir melakukan sisanya. Kudengar, Li Mei tidak bahagia. Kudengar, kau merindukan sesuatu yang hilang. Kudengar, kau menyesal. Bagus. Aku menghela napas panjang, membiarkan angin malam menerpa wajahku. Menyesalkah aku? Mungkin. Tapi *penyesalanmu* jauh lebih besar. Senyum tipis mengembang di bibirku. ***Cinta dan dendam menari dalam irama yang sama, menghasilkan simfoni kehancuran yang indah.***
You Might Also Like: Jual Produk Skincare Lotase Original_20
Share on Facebook