Bikin Penasaran: Cinta Yang Terkunci Di Dalam Kotak Perak
Kabut menggantung di lereng Gunung Tai, seputih sutra yang tersobek. Lorong istana berdengung dalam sunyi, hanya langkah kaki yang bergema memecah kesunyian yang menyesakkan. Li Wei, kembali setelah sepuluh tahun dianggap hilang di medan perang, berjalan pelan. Wajahnya, dulu cerah dan polos, kini dihiasi bekas luka samar dan pandangan mata yang GELAP.
Di ujung lorong, di balai utama yang remang-remang, berdiri Putri Mei Lan. Gaun sutra hijaunya meliuk anggun, tetapi matanya, sebiru danau yang membeku, menyiratkan badai yang terpendam.
"Wei," bisik Mei Lan, suaranya nyaris tak terdengar di antara desau angin. "Kau kembali."
"Aku kembali, Mei Lan," jawab Li Wei, suaranya rendah, serak oleh perjalanan panjang dan rahasia yang disimpan rapat-rapat. "Membawa jawaban untuk pertanyaan yang tak pernah kau ucapkan."
Mei Lan melangkah mendekat. Aroma melati dari rambutnya memenuhi udara, tetapi Li Wei tak bergeming. "Pertanyaan apa yang kau maksud? Aku... aku hanya merindukanmu. Semua orang mengira kau sudah MATI."
"Benarkah? Merindukanku?" Li Wei tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Atau merindukan rahasia yang kubawa bersamaku?"
Mei Lan menegang. Di balik riasan yang sempurna, terlihat kilatan panik yang sekilas. "Aku tidak mengerti."
Li Wei mengeluarkan sebuah kotak perak kecil dari balik jubahnya. Kotak itu diukir dengan gambar burung phoenix yang sayapnya patah. "Kotak ini. Ayahmu memberikannya padaku, malam sebelum aku berangkat ke medan perang. Katanya, 'Simpan baik-baik. Ini kunci ke kekuatan sejati.'"
Mei Lan menatap kotak itu dengan ngeri. "Kotak itu... hilang."
"Tidak, Putri. Aku menyimpannya. Dan aku tahu apa isinya: daftar nama para pengkhianat. Nama-nama yang membantu musuh membantai pasukanku. Nama-nama yang kau berikan kepada ayahmu."
Keheningan kembali menyelimuti balai. Hanya suara napas Mei Lan yang terdengar berat.
"Kau..." Mei Lan tersedak. "Kau tahu?"
"Aku selalu tahu. Aku melihat kilatan kemenangan di matamu saat aku berangkat. Aku mendengar bisikanmu dengan jenderal musuh di balik tirai sutra. Kau yang menginginkan aku mati, agar kau bisa mewarisi tahta. Agar kau bisa mengendalikan segalanya."
Mei Lan tertawa. Tawa yang dingin, menusuk, dan MENAKUTKAN. "Kau bodoh, Wei. Kau benar. Aku yang melakukannya. Aku yang mengendalikan segalanya sejak awal. Kau hanyalah bidak dalam permainanku."
Li Wei menatap Mei Lan. Tidak ada amarah, tidak ada kebencian. Hanya kekecewaan yang mendalam.
"Bukan aku yang membawa rahasia," bisik Li Wei. "Kaulah rahasia itu sendiri."
Ia membuka kotak perak itu. Di dalamnya, bukan daftar nama, melainkan gulungan sutra berisi dekrit kerajaan. Dekrit yang menjadikan Li Wei sebagai penerus tahta jika terjadi sesuatu pada putri.
"Ayahmu selalu tahu," kata Li Wei. "Ia menunggumu mengkhianatinya. Ia melindungiku."
Mei Lan memucat. Kekuatan yang selama ini ia pegang erat, tiba-tiba lenyap.
"Tapi bagaimana mungkin...?"
Li Wei mendekat. Matanya menatap tajam ke dalam mata Mei Lan.
"Karena dalam permainan ini, Putri, terkadang korban adalah dalang yang sesungguhnya."
Kemudian, Li Wei berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Mei Lan terdiam dalam kehancurannya, menyadari bahwa setiap langkah yang diambilnya, setiap pengkhianatan yang dilakukannya, telah menuntunnya tepat ke tempat ini: Kekalahan yang abadi. Dan ia telah memainkan peran yang telah ditulis untuknya.
You Might Also Like: Seru Cinta Yang Kuterima Sebagai Kutukan