Dracin Populer: Aku Ingin Memelukmu, Tapi Batas Itu Selalu Memisahkan
Hujan abu memudar di atas kota yang terluka. Aroma dupa dan darah bercampur, memenuhi Istana Giok yang kini hancur. Di tengah puing, aku menemukanmu, Lian, berdiri tegak bagai pohon bambu di tengah badai. Dulu, kita tumbuh bersama di halaman istana ini, berbagi rahasia di bawah naungan pohon sakura. Dulu, kita saudara. Dulu.
"Lian," desisku, suara serak tertelan gemuruh amarah. "Kenapa?"
Lian menoleh, tatapannya setajam pedang yang baru ditempa. "Kau tahu alasannya, Jing. Takdir yang memisahkan kita."
Kita lahir di bawah bintang yang sama, tapi ditakdirkan untuk jalan yang berbeda. Aku, pewaris tahta yang sah. Dia, anak haram seorang selir, dicampakkan dan disembunyikan. Tapi aku melindunginya, menyayanginya seperti darah dagingku sendiri. Aku bodoh.
"Takdir? Atau pilihan?" aku mencibir, merasakan pahitnya pengkhianatan menggerogoti hatiku. Ingatkah dia, saat aku rela berbagi kue bulan dengannya di malam festival musim gugur? Ingatkah dia, saat aku melindunginya dari para perundung istana?
"Pilihan yang dibuat untuk KELANGSUNGAN HIDUP!" Lian menyalak, matanya berkilat marah. "Kau hidup dalam kemewahan, Jing. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi bayangan. Menjadi TIDAK TERLIHAT."
Permainan dimulai sejak lama. Setiap senyum, setiap sapaan, hanyalah kedok untuk menutupi rencana licik yang telah dia susun bertahun-tahun. Dia adalah dalang di balik pemberontakan ini. Dia membunuh ayahku. Dia merebut tahtaku.
"Kau…kau yang meracuni Kaisar?" Aku tercekat, kata-kata itu terasa seperti duri di tenggorokanku.
Lian tersenyum sinis. "Racun yang sama yang ibuku gunakan untuk bunuh diri, setelah diperdaya ayahmu. Adil, bukan?"
Kebenaran menghantamku bagai gelombang tsunami. Rahasia ini telah mengakar dalam kebenciannya, tumbuh subur dalam diam. Aku selalu mengira dia hanya menginginkan pengakuan, bukan tahta. Aku salah besar.
"Dulu, aku ingin memelukmu, Jing. Aku ingin kita berdiri berdampingan sebagai saudara. Tapi kau selalu melihatku dari atas, dari singgasanamu yang tinggi. Sekarang…kau hanya bisa memeluk pedangku." Lian mencabut pedangnya, cahaya perak memantul di wajahnya yang dingin.
Pertempuran pun dimulai. Kami menari di atas reruntuhan istana, dua saudara yang terikat oleh darah dan pengkhianatan. Pedang kami beradu, melukiskan sejarah pahit di udara. Aku bertarung bukan untuk tahta, tapi untuk kehormatan ayahku. Untuk kenangan akan persahabatan yang telah dirusak.
Namun, aku terluka parah. Darah mengalir deras dari lukaku. Lian berdiri di atasku, pedangnya terangkat tinggi. Di matanya, aku melihat penyesalan sesaat. Tapi, itu hanya sekejap.
"Maafkan aku, Jing."
Pedangnya menusuk jantungku. Kegelapan menyelimuti.
Terlambat aku sadari, kaulah matahariku, dan aku, abunya.
You Might Also Like: 181 L8 Post Disturbance Succession In