Seru Sih Ini! Ia Melihatku Lewat Cermin, Tapi Bukan Aku Lagi Di Sana
Bab 1: Bunga Peony yang Kembali Mekar
Aroma peony menyeruak di antara rak buku kuno. Lin Mei, pemilik toko buku antik kecil di sudut Kota Terlarang, mendongak. Dari balik jendela berdebu, ia melihat pohon peony yang baru saja mekar sempurna di halaman belakang. Tidak mungkin. Peony itu seharusnya baru mekar bulan depan.
Setiap tahun, bunga itu selalu membangkitkan memori samar, seperti kepingan kaca yang tertancap di benaknya. Sebuah taman luas, suara kecapi yang merdu, dan seorang pria bergaun sutra putih yang menatapnya dengan mata teduh.
Lin Mei menggeleng. Reinkarnasi, takdir, itu semua omong kosong. Ia hanyalah seorang wanita biasa yang mencintai buku dan kopi pahit.
Namun, saat ia melangkah keluar dan menyentuh kelopak peony yang lembut, bayangan aneh muncul di benaknya. Seorang wanita terisak di bawah pohon itu, seorang pria berlutut di depannya, SUMPAH terucap di bawah cahaya rembulan.
Lalu, semuanya menghilang.
Bab 2: Echo dari Seratus Tahun Lalu
Suatu siang, seorang pria bernama Zhang Wei memasuki tokonya. Tatapannya tajam, namun di balik itu tersembunyi kesedihan yang dalam. Saat ia berbicara, Lin Mei merasa seolah mendengar gema dari seratus tahun lalu.
"Saya mencari buku tentang Dinasti Ming," kata Zhang Wei dengan suara berat. "Terutama yang menceritakan tentang Putri Qing Yue dan pengawalnya, Jian."
Lin Mei terkejut. Kisah Putri Qing Yue adalah legenda yang kelam. Ia dikhianati oleh pengawalnya sendiri, Jian, yang jatuh cinta padanya namun tak bisa memilikinya. Keduanya mati tragis.
"Kisah itu hanyalah mitos," jawab Lin Mei, berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya.
"Bagi Anda mungkin," balas Zhang Wei. "Tapi saya MERASAKANNYA. Setiap malam, saya bermimpi tentang taman peony dan sumpah yang dilanggar."
Bab 3: Cermin yang Berbicara
Zhang Wei menjadi pelanggan tetap. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di toko buku, membahas sejarah, filosofi, dan mimpi aneh mereka. Lin Mei mulai menyadari bahwa ia juga memiliki mimpi yang sama. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas gambaran masa lalu itu.
Suatu malam, Zhang Wei menunjukkan sebuah cermin antik kepada Lin Mei. Cermin itu terbuat dari perunggu dan dihiasi dengan ukiran peony.
"Cermin ini milik Jian," kata Zhang Wei. "Konon, cermin ini bisa memperlihatkan JIWA SEJATI seseorang."
Lin Mei ragu-ragu, lalu mendekati cermin itu. Saat ia menatap bayangannya, ia melihat sosok wanita lain. Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna lavender dan wajahnya dipenuhi kesedihan.
Putri Qing Yue.
Tiba-tiba, bayangan itu berbicara. "Jian... maafkan aku."
Lin Mei tersentak mundur. Cermin itu jatuh dan pecah berkeping-keping.
Bab 4: Kebenaran yang Membakar
Kepingan cermin berserakan di lantai, memantulkan pantulan masa lalu. Lin Mei dan Zhang Wei akhirnya memahami semuanya. Mereka adalah reinkarnasi dari Putri Qing Yue dan Jian.
Namun, ada satu kebenaran yang lebih pahit yang tersembunyi. Jian tidak mengkhianati Putri Qing Yue. Ia justru melindunginya dari konspirasi jahat yang melibatkan keluarganya sendiri. Jian berjanji akan membunuh orang yang berniat jahat, dan ia telah memenuhi janjinya. Mereka berdua memilih mati daripada hidup dalam pengkhianatan.
SUMPAH itu bukan pengkhianatan, tapi sebuah PENGORBANAN.
Bab 5: Balas Dendam dalam Keheningan
Keluarga yang mengkhianati Putri Qing Yue masih ada, berkuasa dan kaya. Lin Mei, sebagai reinkarnasi Putri Qing Yue, memiliki kekuatan untuk membalas dendam. Tapi ia memilih jalan yang berbeda.
Ia dan Zhang Wei mengungkap kebenaran tentang masa lalu kepada publik, satu per satu. Mereka melakukannya dengan tenang, tanpa kemarahan, hanya dengan fakta yang tak terbantahkan.
Reputasi keluarga itu hancur berantakan. Kekuatan dan kekayaan mereka lenyap. Mereka ditinggalkan dalam kehancuran, tanpa ada yang membela mereka.
Lin Mei tidak merasa puas, tapi ia juga tidak merasa menyesal. Ia telah membalas dendam bukan dengan darah, tapi dengan KEHENINGAN dan PENGAMPUNAN yang menusuk.
Epilog
Beberapa tahun kemudian, Lin Mei dan Zhang Wei hidup bahagia, dikelilingi buku dan bunga peony. Mereka tahu bahwa masa lalu selalu ada, membayangi kehidupan mereka. Tapi mereka memilih untuk melihat ke depan, menciptakan masa depan yang lebih baik.
Suatu malam, saat Lin Mei menatap langit berbintang, ia mendengar bisikan lembut, "... Aku akan menunggumu di taman peony..."
You Might Also Like: Distributor Skincare Bimbingan Bisnis