Dracin Populer: Kenangan Yang Menolak Mati Di Tengah Bara
Debu membara menari-nari di pelataran istana yang runtuh. Di tengah reruntuhan itu, berdiri Jingyi, jubah putihnya yang dulu anggun kini ternoda jelaga dan darah. Di hadapannya, berlutut dengan kepala tertunduk, adalah Kaisar Hong, pria yang dulu dicintainya dengan segenap jiwa.
Dulu, di taman bunga persik yang bermekaran, Hong berjanji padanya: "Jingyi, mahkota ini, tahta ini, seluruh nyawaku, akan kupersembahkan untukmu. Engkaulah satu-satunya ratu di hatiku." Kata-kata itu, sehangat mentari musim semi, telah membakar hati Jingyi dengan cinta yang tulus. Namun, mentari itu kemudian tertutup awan gelap ambisi dan pengkhianatan.
Hong menikahi putri dari kerajaan tetangga demi memperkuat kekuasaannya. Jingyi, yang seharusnya menjadi ratu, hanya menjadi selir yang dilupakan. Janji-janji itu hanyalah debu yang ditiup angin.
"Jingyi…" bisik Hong, suaranya serak. "Maafkan aku."
Jingyi tertawa pahit. Tawa itu seperti pecahan kaca yang menusuk-nusuk jantungnya. "Maaf katamu? Maafmu bisa mengembalikan tahun-tahunku yang hilang? Bisa mengembalikan kepercayaanku yang kau hancurkan berkeping-keping?"
Ia mendekat, berlutut di hadapan Hong, mengangkat dagunya dengan jari-jari yang gemetar. Mata mereka bertemu. Di mata Hong, Jingyi melihat penyesalan yang tulus, tapi juga ketakutan. Terlambat. SEMUANYA sudah TERLAMBAT.
"Kau tahu," bisik Jingyi, suaranya lirih namun mematikan. "Dulu, aku akan memberikan apa pun untukmu. Bahkan nyawaku."
Kemudian, ia bangkit, berdiri tegak di tengah reruntuhan. Pasukan pemberontaknya telah menguasai istana. Hong kehilangan segalanya.
"Tapi takdir punya cara sendiri," kata Jingyi, menatap langit yang berapi-api. "Kau telah merampas masa depanku, maka takdir akan merampas masa depanmu."
Saat fajar menyingsing, Jingyi meninggalkan istana yang hancur itu. Ia tidak memerintahkan eksekusi Hong. Ia tidak perlu. Kehilangan tahta, kehilangan harga diri, hidup dalam penyesalan abadi – itu adalah hukuman yang lebih berat daripada kematian.
Ia tahu, di lubuk hatinya yang terdalam, bahwa walau bara dendam telah menyala, sisa-sisa cinta itu masih membara samar, seperti arang yang tertutup abu.
Apakah ini akhir dari cinta yang terlambat, ataukah awal dari siklus dendam yang tak berujung?
You Might Also Like: 0895403292432 Jual Skincare Anti