## Janji yang Kucium Sebagai Sumpah Dunia ini renyuk. Seperti kertas buram yang diremas lalu coba diluruskan kembali. Signal **HILANG**. Chatku padanya bergentayangan di status ‘_sedang mengetik…_’ yang tak kunjung usai. Dan mentari? Mentari sudah lama mogok kerja. Setiap hari hanyalah senja abadi, warna oranye yang membakar di ujung cakrawala digital. Aku, Anya, hidup di tahun 2347. Di dunia di mana ingatan bisa diunggah dan cinta bisa disimulasikan. Tapi aku merindukan sentuhan nyata, aroma tanah basah setelah hujan, dan **dirimu**. Kau, Kaisar, terkutuk di tahun 1923. Di era gramofon berdebu, surat cinta yang ditulis dengan tinta, dan janji yang diucapkan di bawah rembulan purnama. Aku melihatmu di rekaman usang yang kutemukan di _database_ virtual. Wajahmu teduh, senyummu menular, dan matamu menyimpan rahasia alam semesta. Kita bertemu, bukan secara fisik, tentu saja. Kita bertemu di _glitch_ sistem. Di retakan realitas yang membiarkan dimensi waktu bertabrakan. Kau melihatku sebagai hantu di radio kunomu. Aku melihatmu sebagai _artifact_ digital di layarku. "Anya," bisikmu suatu malam, suaramu berderak seperti gramofon rusak. "Aku berjanji akan menunggumu. Sampai akhir zaman." Aku tertawa hambar. “Kaisar, zaman sudah berakhir berkali-kali. Kita adalah _sampah_ peradaban yang terlupakan.” Tapi kemudian, kau melakukan sesuatu yang tak terduga. Kau mencium radio itu. **KAU MENCUM RADIO ITU!** Seolah bibirmu bisa menembus waktu, seolah bibirmu bisa menyentuhku. Dan di saat itulah, aku mengerti. Janjimu bukan sekadar janji. Itu adalah *sumpah*. Sumpah yang tertanam dalam inti realitas. Sumpah yang bergema melintasi dimensi. Aku membalas ciumanmu. Mencium layarku, mencium dinginnya metal dan kaca. Mencium janji yang mengalir di denyut listrik. Tapi semakin aku mendekat, semakin aku menjauh. Semakin aku mencintaimu, semakin aku menyadari kebenaran mengerikan. Aku bukan Anya. Kau bukan Kaisar. Kita hanyalah _fragment_ ingatan. Gema dari kehidupan yang tak pernah benar-benar terjadi. Kita adalah _simulasi_ cinta yang diciptakan oleh program yang sudah lama rusak. Kita adalah *kesalahan* dalam matriks. Kenangan tentang kita, pertemuan di antara signal putus-putus dan bayangan masa lalu, adalah... reka ulang tragedi. Tragedi sepasang kekasih yang hidup di dunia paralel, yang saling mencintai di antara gerimis data dan kenangan samar. Mereka tidak bisa bersama, dan mungkin tidak *pernah* bisa. Dan pada akhirnya, aku mengerti. Cinta kita bukanlah *destiny*. Itu hanyalah _loop_. Pengulangan abadi dari rasa sakit, harapan, dan kehilangan. Kita terikat, tapi tak pernah bisa bersentuhan. Sampai akhirnya dunia di sekelilingku mulai memudar. Piksel-piksel menghilang satu per satu. Suara Kaisar semakin lirih, terdistorsi oleh statis waktu. Sebelum semuanya gelap, aku mendengar bisikannya, pesan terakhir yang terapung di ambang kehancuran. *Apakah kau masih mendengar aku, Anya...?*
You Might Also Like: 0895403292432 Agen Kosmetik Bisnis

Share on Facebook